Monday, September 3, 2007

Risalah Singkat Untuk Saudara dan Saudariku


Akhi….
Ukhti…
Sudah Benarkah kita…?
By :Hafidz el-Maqshud
Akhi….,
Ukhti....,
Setelah kita mengucapkan dua kalimat syahadat sebagai tanda persaksian kita akan keberadaan Allah SWT yang maha tunggal , dan juga sebagai pengakuan kita akan kenubuwahan Muhammad SAW . Maka secara otomatis tiada lagi pengelompokan yang bisa menimbulkan unsur ta'asshubiyah maupun rasisme di dalam diri kitadenganyang lainnya sudah diikat dengan tali islam . Setiap kita melangkah dan berbuat tidak lagi berdasarkan prinsip keqobilahan atau kesukuan yang menjadi salah satu unsur pemecah keutuhan ummat islam yang memiliki prinsip UmmatanWahidah (Ummat Yang Satu) , tiada lagi alasan berbeda diantara kita didalam segala hal , yang membedakan antara satu dengan yang lainnya Cuma kualitas taqwa terhadap Rabb semesta alamlah tidak lainnya . Saya dan kita semua sering mendengar dari banyak kata–kata yang dilontarkan lisan-lisan yang tak terjaga dengan baik dan seolah tidak mau berikir akan apa akibatnya dikemudian waktu , tentang ucapan-ucapan yang seakan-akan menisbatkan tempatnya berada adalah yang terbaik , sedangkan lainnya adalah sebaliknya . Ucapan-ucapan yang berkenaan dengan ini sebenarnya tidak pantas keluar dari mulut seorang yang sudah mengaku berislam . Tapi sayang kita sekarang malah searing mendengarnya dari lidah seorang yang mengaku dirinya adalah orang-orang terpelajar dan terdidik .

Akhi…..
Ukhti....
Ingatlah kemajuan tidak akan tergapai oleh kita dengan ucapan seandainya ……, seandainya ……dan seandai-andai lainnya ..Tidak pula akan teraih hanya dengan karena…karena…karena , coba kalau saja …..Entah berapa banyak lagi kalimat yang hendak dikeluarkan untuk membela hal yang ada pada dirinya , misalnya mengapa Dari mengapa ia belum maju . Kata-kata seperti itu tidaklah dapat dijadikan alasan lagi , sekarang yang perlu adalah tindakan nyata dan segala alasan tidaklah diperlukan lagi . Sekarang bagi kita semua harus memandang kedepan bukan kebelakang lagi , biarlah sesuatu yang telah lewat kita bukukan dan dijadikan sebagai pelajaran bagi kita didalam usaha meneruskan langkah kedepan meraih kesuksesan yang sebenarnya. Marilah kita pandang diri kita masing-masing bukan dari qobilah mana kita berasal , tetapi dimana kita sekarang bernaung dan berjalan . Sekarang bukan lagi sikap saling menyalahkan yang kita lakukan , tetapi sikap mawas diri terhadap diri masing-masing sebagai koreksi kolektip terhadap keadaan sebenarnya yang sedang dialami maupun yang sudah terlewat . Alasan untuk membela diri sudahlah tidak kita perlukan lagi jujga sikap menyalahkan pihak lain yang belum tentu menjadi penyebabnya .

Akhi…..
Ukhti....
Meamandang kedepan itulah yang harus kita lakukan bukan menyalahkan segala sesuatu yang telah lewat , semua yang telah terjadi jadikanlah sebagai pelajaran untuk menetukan langkah menuju sukses , dari pada menyalahkan pihak lain , apa tidak lebih baiknya kita periksa diri kita , mungkin kita punyai luka yang menjadi sebab lambannya langkah maju kedepan .

Ingatlah saudaraku semua tercinta , Allah SWT akan memberikan kita pemimpin itu sesuai dengan keadaan diri kita . Pemimpin kita dzalim dan kurang menjaga amanah yang dipikulkan itu tak lain merupakan gambaran dari diri kita , bahwa ternyata kita itu belum baik dan perlu perbaikan diri segera .
Akhi…..
Ukhti....
Kalian ingin maju ….
Saya yakin jawaban yang akan kalian berikan dari pertanyaan ini adalah jawaban iya dan iya....tidak lainnya . Tapi saya yakin kalian tidaklah dapat meraihnya kalau hanya menyalahkan pihak lain saja , teapai saya katakan salahkanlah diri kalian terlebih dahulu…. Karena ingat dan ingatlah , suatu Ummat mundur dan terbelakang bukan karena pihak dari luar , tetapi sebagian besar itu berasal dari internnya yang keropos dan terjadi perpecahan. Sebagaimana beberapa lama islam terpuruk jatuh bukan Cuma karena ulah musuh–musuh islam , tetapi karena ummat sendiri yang lalai dari apa sebenarnya yang harus ia lakukan .

Akhi…
Ukhti....
Apa lagi yang hendak kita cari ?...
Semuanya sudah ada didalam islam . Kita ingin mendapatkan kebahagiaan , islam menunjukan jalan kearahnya . Ketenangan , islam memberikan prinsip-prinsip yang manjur utuk meraihnya . Rasa aman dan keoptimisan menjalani kehidupan kemasa depan kuncinya sudah islam berikan , cuma kini tinggal kita bilakah hendak menengok dan mengambilnyya . Bagaimana kita akan mendapatkan apa yang kita citakan , bila kunci tempatnya bersemayam tidak kita miliki , bahkan ketika disodorkan kepada kita yang kita lakukan adalah memalingkan muka , menolak . Sungguh tiada anjing yang akan menolak ketika disodorkan kepadanya sekerat tulang kecuali ia pasti mengambilnya . Lalu dengan kita sekarang bagaimana , akal yang telah Allah anugerahkan kepada kita apakah hendak kita siakan dan telantarkanb begitu sahaja .Tentunya kita yang masih merasa sebagai manusia sehat akalnya tidaklah mau dikatakan "افلا تعقلوث" bukan…, Apalagi kita yang sudah berislam tentunya akan tahu bahwa orang yang tidak mau mengambil konsep hidup sukses dunia dan akhirat dari islam , maka suatu bentuk kenistaan yang tidak pernah terbayangkan pasti akan diperolehnya diakhirat nanti , serta konsep sesaat yang dianutnya tidaklah sekali-kali akan menjadikan ia tenang . karena ia tak ubahnya binatang yang hanya menilai sesuatu yang semu . Bahkan ia lebih sesat dari pada binatang , sebab binatang tidaklah memiliki akal , sedangkan akal ada bersama dengan dia , tetapi ia malah membusukannya dalam keranjang sampah . Mereka kunci hati mereka dari menerima kebenaran , menutup rapat mata mereka tidak mau melihat ayat-ayat Illah yang esa , telinga yang mereka miliki disumbat rapat tidak mau mendengar lantunan kalimat al-haq .

Akhi…
Ukhti....
Apakah kita mau menjadi orang yang sedemikian rupa? Tentunya tidak bukan…,
Saya yakin setiap dari kita menginginkan sesuatu yang baik , dan setiap benak kita pasti sudah ada pemahaman bahwa kebaikan itu pulalah yang akan melahirkan sesuatu yang baik pula . Benarnya langkah yang kita tempuh akan menjadi barometer baik tidaknya kita dimata Allah dan juga dihadapan makhluknya yang lain . Dalam kehidupan kita sesuatu yang baik itu Cuma satu , yaitu baiknya interaksi kita dengan Rabb pencipta dengan cara mentaatinya . firmannya dalam qur`an maupun dalam ucapan nabinya yang dapat kita jadikan pandangan berbuat dalam bertindak serta mengambil langkah . hanya dengan begitulah surga dunia akan kita dapatkan . dan ketahuilah kita tidak akan mendapatkan surga akhirat bila surga dunia tidak kita masuki . Tergantung anda akhiku ….., karena andalah pembawa kaki sendiri , bukan saya . sebelum saya lanjutkan larikan kalimat yang akan saya uraikan , kiranya semua yang berasal dari saya hanyalah nasehat dari saudara kesaudaranya , dan kalian semua adalah saudara-saudara saya bukan hanya di-Dunia, di akhirat lebih terharapkan. apakah kalian mahu , pabila kita nati sama-sama menghadap wajah Allah , berjumpa dengan pencipta kita semua ….? .

Akhiku….
Ukhti….
Mana semangat berislam yang ada pada generasi awal terdahulu , para sahabat yang setia meneladani nabi , tabi'in dan ulama-ulama saleh yang senantiasa berjalan lurus dan tidak berbelok arah kepada kesesatan . sebenarnya dimana kalian berada sekarang ini , jalur mana yang sedang kalian lalui saat ini . saya rasa kalianlah yang akan menjawabnya sendiri dan hal ini memerlukan kejujuran. Saya yakin didalam diri masing-masing kalian ada pijar semangat yang menyala untuk menjadikan diri dan lainnya sebagai makhluk bermoral qur'ani , tapi entahlah pijar yang ada pada kalian dijaga ataukah tidak . dipenuhi kebutuhan bahan bakarnya supaya tidak padam , ataukah ditelantarkan begitu sahaja . apabila kalian lalai maka padamlah ia dan gegelapan adalah akibat yang di dapatkan , lajur kesesatan terbuka lebar untuk anda .

Kalian benar-benar akan menjadi makhluk yang tak ada guna hidup, dan bahkan lebih hina dari binatang yang ada, di penghujung waktu hanya kehinaan yang berhak dihadiahkan, kemulyaan sama sekali tidak ada bayangnya untuk kalian dapatkan.Tahukah kalian, dan kurasa pasti sudah tahu dan mengerti jika kalian senatiasa membuka mata dan telinga untuk terima kebenaran hakiki. Tapi aku tidak tahu barangkali banyak diantara kita yang membutakan mata dan tulikan telinga serta menjelagakan hati dengan noda hitam. Allah sudah banyak sekali memberikan contoh dan perumpamaan yang sangat banyak pada ummat-ummat sebelum kita akan akibat dari keingkaran dan keengganan diri untuk menghanifkan diri, ataukah kalian ingin menjadi seperti yahudi yang bandel dan suka mbalelo dengan perintah rabbnya, setiap pembawqa kebnaran yang di kirim kepada mereka sealalu di tentang, bahkan dibunuh hatta seorang nabipun. Memang tidak salah dalam hadis nabi tersebut bahwa nati suatu saat ummat islam akan mengikuti yahudi dan nashoro edikit demi sedikit, hingga ketika mereka masuk lubang biawakpun akan terus diturutkannya .

Akhi…
Ukhti…
Tahukah kalian sebab mengapa kita sekarang dan hari ini terpinggirkan ?
Karena kebencian masih menguasai hati kita, benci terhadap saudara sendiri dan mencelanya karena ada sebab yang menurut ego pribadinya tidak di suka, semua ruang lingkup geraknya hanya di lingkupi dengan benci dan benci. benci ketika melihat saudaranya sukses dengan alasan lain etnik dan kabilah, menyalahkan saudaranya sebagai sumber kemunduran dia. Sedang kalian selalu menganggap diri adalah yang terbenar dan tidak tersalahkan. lalu mana akhlak kalian sebagai pemeluk agama terbenar dan satu-satunya yang benar …?,

Akhi…
Ukhti…
Ketahuilah segala sesuatu itu sebenarnya bersumber dari diri sendiri, bukan dari factor lainnya . kalian mundur itu sebab kalian sendiri, majupun sebab dari kalian. tidaklah salah dan tidak bisa bagi kalian mengkambing hitamkan serta selalu mengkambing putihkan kalian. sekali lagi yang harus kalian pikir dan pikir adalah, janganlah sok benar sendiri. Seperti Ummat islam mundur dan terpinggirkan saat ini, bukan sebabnya karena yahudi dan nasrani dan musuh-musuh islam lainnya. bukan, sekali lagi bukan kerana mereka. kita lalai dan teledor serta lelap didalam ketidaksadaran itulah penyebab utamanya, kita sendiri biang keladinya.Yang harus kita lakukan sebenarnya malah berterima kasih atas tindakan kurang ajar mereka terhadap kita, sebab itu kita bisa bangun dari tidur dan segera terjaga memandang hari depan yang perlu di rasa dan dijalani. kalau tidak seperti itu kita akan semakin terlena dengan sikap acuh kita dan semakin dalam terjatuh kedalam kesalahan yang berlipat-lipat. yang harus kita lakukan sekarang setelah tahu dan mengerti adalah segera berbuat dan bertindak untuk meraih maju, bukan hanya mengumbarkan kata-kata menyalahkan dan melihat suatu permasalahan dengan tatapan mata ketololan. Entahlah kapan kita semua akan mencapai kedewasaan yang haqiqi , yang bisa berbuat lebih untuk ummat , menjadi subjek tercapainya kembali kemulyaan islam yang sempat lepas dari genggaman tangan dan terlalaikan begitu lamanya. bersama itu pula manusia makin jauh melangkah meninggalkan apa yang sebenarnya harus di lalui, terlalu dalam terjerumus kedalam kedangkalan otaknya di dalam berpikir di bungkus kecongkakan dirinya yang sebenarnya di penuhi dengan kehinaan adan dan cela .

Akhi…..
Ukhtiku sayang…..
Apakah kalian ingat dan selalu mengingat saat di mana nanti setiap manusia dan semua yang bernyawa akan merasakannya, ketika ruh keluar dari tenggorokan , ketika jasad akan tinggal terbujur tidak berharga lagi, hina yang akan bertemankan dengan cacing tanah. Ingatlah kita semua pasti akan menjemputnya sebagai awal menuju kehidupan selanjutnya, hari pembalasan(yaumuljaza)atas segala sesuatu yang telah kita perbuat. Apakah kita termasuk orang yang menggunakan lisan yang kita punya untuk kebaikan dan melantunkan kalimat2 tayyibah, ataukah mengumbarkan kata2usang dan dan penuh dengan kebohongan serta jauh dari melantunkannya untuk mengingat Allah, mengghibah orang lain, menyebarkan aib saudara dan kata2 penuh kepalsuan lainnya. Nanti semua ini akan menjadi penentu bagi kita setelah melewati pintu gerbang perhitungan. Sungguh merupakan kecelakan bagi kita bila kita termasuk orang yang salah dalam kehidupan dunia …..

Akhi…
Ukhtiku saying…..
Telinga yang kita miliki di mana juga kita gunakan, hanya untuk mendengarkan suara2 kebatilah dan mendengarkan aib saudara kita. Ataukah untuk mendengarkan kalimat haq dan ayat2 Allah. ini juga nati akan di pertanggungjawabkan di mahsyar, satu di antara dua hal yang akan kita raih, celaka ataukah bahagia itu Tergantung dari hidupmu wahai saudaraku sayang .

Lalu hati yang kalian punya apakah selalu kalian jaga keputihannya ataukah dalam saatr2mu selalu di nodai dengan noktah hitam kehinaan dan kenistaan ….?.sungguh sayang jikalau kalian salah melangkah akhirat abadi hanya akan kalian isi dengan kepedihan. lalu mata yang kalian punya telah kalian gunakan untuk melihat danmenyaksikan kebesaran Allah dan ayat2nya lalu mentadabburinya ataukah mengumbarnya untuk menyaksikan kebatilan dan sesuatu yang di larang Rabbmu yang maha kuasa .

Akhi…
Ukhtiku sayang….
Sekarang lihatlah diri kalian dengan seksama sudahkah kalian menjadi baik ?, hamba Allah yang taat yang selalu menyambut apa yang Allah kehendaki dengan ucapan "sami'na wa atho'na" kami dengar dan taat. Sunggguh merupakan keberuntungan jika hal demikian sudah ada padamu saudaraku, kemulyaan islam pasti akan teraih kembali dengan segera .

Tapi sekarang yang saya saksikan hanyalah sesuatu yang membuat mata selalu terasa ingin mengalirkan air mata kesedihan melihat realita dan kenyataan yang ada di hadapan . kalian masih lebih bangga dengan predikat dunia dari pada bercita mendapat predikat mulya akhirat yang abadi. yach, bangga dengan diri yang terlahir menjadi kaya, menjadi anak pejabat, memiliki keadaan diri yang rupawan dan apakah saja perkara lainnya yang pada kenyataannya tidaklah bisa menjamin akan teraihnya bahagia dan selamat .

Akhi….
Ukhti sayang…..
Kita hidup dari waktu kewaktu berjalan kedepan tiada henti menghitung saat-saat yang terus terlewat seharusnya senantiasa berpikir akan apa sahajakah yang telah kita perbuat ?. apa yang telah d persemabahkan teruntuk diri dan agama kita. Apakah Allah sudah kita jadikan sebagai sebab segala laku kita serta sebagai tujuan utama di dalam setiap langkah yang di jejakkan ? apakah Rosulullah sudah kita jadikan sebagai qudwah di dalam setiap laku dan kata kita ? apakah qur'an sudah kita jadikkan sebagai undang-undang yang mengatur kita? ataukah malah di-telantarkan begitu sahaja seperti barang yang tak berharga? apakah kita masih memiliki semangat berjihad untuk selalu berusaha meninggikan agama Allah di setiap tempat ?........

Allahu akbar…, maha besar Allah yang telah menunjukan kita di-antara pemeluk diennya yang hanif. Dan semoga kita termasuk orang yang menjaga petunjuk yang telah di karuniakannya terhadap diri kita. Tetapi yang kita saksikan terhadap kenyataan yang ada sungguh sangat mengiris akan setiap diri yang sadar, kehinaan sudah menjadi suatu yang saat ini menjadi suatu kebanggaan, sedang kebenaran sepertinya sudah di tabukan sebagai suatu yang hina dan nista

Akhi…
Ukhti…
Apakah kau sudah menyadarinya?
Dapat kita lihat di setiap tempat, banyak saudara seiman dengan kita yang telah salah langkah. Mereka menjadi generasi yang merasa enggan dan sungkan untuk menjejakan kakinya di mesjid-mesjid walaupun hanya untuk melaksanakan sholat berjama’ah atau hanya sekedar untuk mengikuti halaqoh-halaqoh para ‘ulama dan fuqoha dan juga merasa asing untuk bergaul dengan qur’an serta buku-buku agama. Yach terasa asing, padahal semua itu adalah miliknya, milikmu wahai saudaraku…saudariku….

Mal-mal dan diskotik sudah menjadi pengganti mesjid di daerah perkotaan sebagai sarana untuk mejeng dan jual diri, yach entahlah apa yang ia pamaerkan dari dirinya yang sebenarnya hina?

Jembatan pun sudah menjadi tempat yang taka asing lagi bagi para kawula muda untuk nongkrong dan memetik gitar serta tempat untuk meneliti orang yang lewat di depannya. Suara muadzin yang mengumandangkan adzan seakan tiada penah di gubrisnya. Akhiku…Ukhtiku tahukah kalian apa reaksi mereka ketika di ingatkan? Mereka akan melotot marah dan mungkin malah akan mengumpat kita. Tidak terbayangkan nantinya bagaimana murka Allah akan mereka terima di hari yang tiada hal yang pernah di buat di Dunia kecuali akan mendapatkan balasan di dalam hari ini, itulah hari pembalasan akhiku…ukhtiku sayang!

Engkau harus selalu mengingatnya dan juga menyadarinya bahwa kemajuan itu letaknya bukan di dalam laku yang senantiasa menyalahkan orang lain, akan tetapi letaknya ada didalam hatimu, didalam dirimu sendiri. Koreksilah diri anda sebelum berkata!

Akhi…Ukhti …engkau tentunya pernah membaca sejarah munculnya islam, bagaimana islam maju dan berkembang pesat dengan segala kesempurnaan yang di milikinya. Engkau pasti tahu apa saja yang telah di persembahkan untuk keberhasilan tersebut? Banyak saudaraku, engkaupun tentunya sudah mengetahuinya. Harta dan bahkan darah para syuhada. Tapi lihatlah hasilnya! Islam berjaya, mengapalah kita tidak dapat mengulangnya? Bukankah saya engkau dan kita semua adalah orang islam yang bahkan darah islam sudah ada semenjak henerasi-generasi awal dari nenek moyang kita.

Dimana tempatmu saat ini?
Sebuah pertanyaan untukmu, aku hanya ingin mendapatkan jawaban yang jujur dari dirimu saudaraku!
Oh iya, masihkah engkau di dalam lingkaran islam? Ataukah engkau sudah keluar darinya? Hanya kepada Allah-lah senantiasa meminta semoga saya, engkau dan kita semua senantiasa berada di dalam lingkaran islam sampai akhir hayat. Mata ini terkadang sedih ketika melihat engkau terlunta dalam kenistaan, bagaimanapun juga, aku adalah al-akh saudaramu, walaupun kita tidak sedarah, tapi ikatan islam lebih erat dari padanya.
Bersambung...